Pemahaman Pembelajaran Dengan Pusat (Learning Centre) Di Paud

PAUD-Anakbermainbelajar---Secara sederhana, pusat diartikan selaku sebuah wadah yang diasiapkan guru bagi aktivitas bermain anak. Melalui serangkaian aktivitas main tersebut, guru mengalirkan materi pembelajaran yang sudah disusun dalam bentuk lesson-plan. Rangkaian aktivitas itu mesti saling berhubungan dan saling mendukung untuk meraih tujuan berguru harian dan tujuan berguru pada semua pusat dalam ssatu mesti harus sama. Setiap pusat memiliki center point dan semua mengacu pada tujuan pembelajaran yang sudah dijadwalkan tim guru.

Baca juga selengkapnya tiga jenis main dalam bermain di PAUD !! 

Dalam pendekatan Sentra, ada tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan, mulai dikala anak memasuki lingkungan sekolah kalangan mainnya sampai menyelesaikan aktivitas bermain dan kembali menuju rumah. Setiap tahapan itu terekam dalam laporan harian aktivitas guru, yang hendak menjadi materi untuk mengukur kemajuan anak, serta pada risikonya memberian respond dan stimulasi yang sempurna agaar kesanggupan anak meningkat secara optimal.

Secara garis besar, perekaman kesanggupan setiap anak mengacu paa tolak ukur kesanggupan penjabaran yang dibangun lewat serangkaian aktivitas yang menggunakan benda-benda (main) konkret. Dengan benda-benda itu anak mengenal warna, bentuk dan ukuran. Secara sedikit demi sedikit pula anak berguru untuk mengenal ciri-ciri, gejala dan sifat-sifat benda dan kejadian. Kemampuan mengklasifikasi dibangun, baik dikala bermain maupun dikala merapikan mainan. Terbangunnya kesanggupan penjabaran pada hal-hal yang nyata merupakan bekal mutlaj anak mudah-mudahan kelam mereka bisa mengkalisifikasi hal-hal yang abstrak, bisa membedakan manay ang benar dan mana yang salah, seta sudah biasa menyikapinya dengan tepat.

Dalam hal penerapan disiplin, misalnya, sering guru atau orang renta menghadapi perkara atau bahkan tidak tahu lagi bagaimana upaya mendisiplinkan anak. Keadaan ini biasanya bermuara pada hukuman, yang lazimnya justru kontra produktif bagi kemajuan anak. Yang kerap tidak disadari oleh orang renta atau guru adalah, bagaimana anak sanggup menjalankan sesuatu sesuai dengan aturan atau yang sering dipahami hidup yang berdisiplin, bila ia belum memiliki tumpuan yang memiliki pengaruh menyangkut makna disiplin.

Sentra menolong anak mendapat tumpuan itu, antara lain, dengan cara simulasi eksklusif menyangkut sebuah aturan. Anak menjadi mengerti mengapa dan untuk apa aturan itu dibuat. Contoh, pada dikala main balok, anak berguru mengerti bahwa balok digunakan untuk membangun. Jika balok digunakan untuk hal lain bisa membuat ancaman bagi diri sendiri maupun orang lain alasannya merupakan sifat dan bentuknya, yakni yang dibikin dari kayu dan memiliki sudut.

Contoh lain, aturan mudah-mudahan anak berlangsung bila berada dalam ruangan. Jika anak berlari, maka bisa membuat tabrakan, baik dengan orang maupun dengan benda-benda. Anak diajak untuk menerima pengertian bahwa berlari bisa dijalankan di lapangan berumput, alasannya merupakan disana tidak banyak orang-orang maupun benda-benda dan bila ia jatuh tidak akan berbahaya.

Salah satu komponen penting yang membedakan pendekatan pusat dengan pendekatan kelas tradisional merupakan pengajaran tidak eksklusif (non-direct teaching). Pada jadwal ini guru tidak menyuruh, tidak melarang dan dihentikan murka pada anak. Apapun yag dijalankan oleh anak itu timbul dari anak itu sendiri, guru sanggup menolong dengna menyediakan pijakan pada anak. Pendekatan Sentra menekankan proses pembelajaran yang berpusat pada anak, sedangkan guru lebih berfungsi selaku motivator dan fasilitator.

Menurut Jean Piaget (1972), anak seharusya bisa menjalankan percobaan dan observasi sendiri. Guru, pasti saja, bisa menuntut anak-anank dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang paling penting mudah-mudahan anak dalam mengerti sesuatu ia mesti membangun pengertian itu sendiri. Ia mesti menemukannya sendiri.

Elemen ini penting alasannya merupakan dengan menerima sendiri pengetahuannya lewat pengalaman-pengalaman bermain yang menyenangkan, wawasan itu akan memiliki akar yang alasannya merupakan menyatu dalam proses kemajuan kesanggupan berpikir anak. Selain itu, seumpama kata Holt (1964).

"Kita tidak mengenali wawasan apa yang paling diinginkan anak di masa depan, oleh alasannya merupakan itu, tidak ada gunanya untuk mengajarkan sekarang. Sebaiknya kita menolong anak kini untuk makin menyayangi dan makin cerdik berguru sehingga sanggup berguru segala sesuatu pada dikala dibutuhkan."

Dalam pendekatan Sentra, anak dirangsang untuk aktif berguru lewat aktivitas bermain. Seluruh aktivitas pembelajaran befokus pada anak selaku subyek pembelajar. Sedangkan pendidik lebih banyak berperan selaku motivator dan fasilitator dengan menyediakan pijakan-pijakan (Scaffolding). Pijakan itu sanggup digambarkan seumpama daam proses pengecoran bangunan bertingkat. Untuk mendapat kondisi lantai bab atas yang kokoh, diinginkan tiang-tiang penyangga dikala mengecornya. Bila betonnya sudah keras, maka bangunannya sudah kokoh, tiang-tiang penyangga sanggup dilepas alasannya merupakan tidak diperlukan lagi.

Semua itu lakukukan selama anak bermain. Dalam pendekatan ini anak diberi potensi untuk bermain secara aktif dan inovatif di sentra-sentra pembelajaran yang tersedia guna membuatkan dirinya.

Sendiri digunakan selaku wadah aktivitas bermain anak. Dengan Sentra, kesanggupan dan kemampuan anak dibangun lewat bermain tanpa tekanan dan paksaan dari guru dan lingkungan. anak tidka disuruh duduk rapi dan tangan dilipat di atas meja untuk menyimak pengajaran guru.

Sentra menghasilkan anank berguru dengan besar hati dan senang. Suasana tenteram dan mengasyikkan sungguh disarankan. Karena, bila anak dalam kondisi tertekan, kecewa, duka atau murka (emosi negatif), maka ia tidak akan sanggup belajar. Berdasarkan teori yang lahir dari observasi kemajuan otak, otak pusat berpikir insan tidak akan berfungsi bila dalam kondisi emosional. Dengan memposisikan anak selaku subjek bukan objek, sanggup menghasilkan seluruh potensi kecerdasan bisa dibangun dan menghasilkan mereka akan berkembang menjadi anak yang kreatif.

Elemen penting lain dalam pendekatan pusat merupakan perhatian intensif pada penilaian kemajuan kesanggupan anak secara individual. Elemen ini mewajibkan adanya aktivitas perekaman kemajuan anak secara perorangan setiap hari. Secara kontinyu hasil perekaman itu menjadi materi untuk respons atau stimulasi selanjutnya    

Demikian wacana pengertian pembelajaran dengan Sentra (learning centre) di PAUD, mudah-mudahan postingan singkat ini bermanfaat. Terimaksih sudah berkunjung di webblog PAUD-anakbermainbelajar ini. Terimakasih. Sukses selalu.    

Post a Comment

0 Comments