Cara Melatih Anak Buang Air Besar (Bab) Dan Buang Air Kecil (Bak) Toilet Pembinaan Untuk Anak Paud (Bag 1)

PAUD-Anakbermainbelajar-----Kemandirian dalam mengelola diri sendiri secara sedikit demi sedikit perlu dibangun pada anak usia dini. Kegitana Toilet Training atau Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air kecil (BAK) untuk anak di Lembaga PAUD. Latihan ini mesti dilakukan dalam bentuk interaksi yang mengasyikkan antara pendidik dan anak usia dini.

Toilet Training bukan sekedar melatih anak memakai toilet alasannya merupakan pendidik bisa saja menuntun anak ke toilet jikalau diperlukan, tetapi intinya pendidik tidak sanggup memaksan anak BAB atau BAK di sana. Intiya lebih keapda menumbuhkan pada diri anak terhadap pengenalan rasa ingin BAB atau BAK serta wilayah juga cara sehat memakai toilet. 

Anak mesti mengenal gejala tekanan di kandung kemih dan ada rasa mulas ingin BAB. Kemudian anak diajarkan untuk menghasilkan relasi antara perasaan tersebut dengan hal apa yang sedang terjadi dalam tubuhnya. Selanjutnya, anak diajarkan berguru merespon dengan sempurna rasa tersebut. Berarti apalagi dulu anak sudah diajarkan wacana cara melepaskan pakaian. Penting juga mengajarkan anak cara menahan keinginannya hingga semua sudah aman untuk proses BAK dan BAB. Selain itu juga, anak dilatih bagaimana membersihkan kemaluannya baik depan maupun belakang, turun dari toilet dengan aman, memakai celana kembali, menyiram, mencuci tangan dengan cara benar. 
Kemandirian dalam mengelola diri sendiri secara sedikit demi sedikit perlu dibangun pada anak usia dini CARA MELATIH ANAK BUANG AIR BESAR (BAB) DAN BUANG AIR KECIL (BAK) TOILET TRAINING UNTUK ANAK PAUD (BAG 1)
Anak Usia Dini latihan pispot 


Langkah-langkah Berlatih BAK dan BAB (Toilet Training)

Langkah-langkah berlatih toilet (Toilet Training) berikut ini sebagian besar diambil dari buku The Baby Book karangan Wiliam Sears, M.D dan Martha Sears, R. N (2007).

Langkah Pertama: Pendidik mesti menegaskan bahwa anak sudah siap

Menurut Sears dan Sears (2007), kita sudah sanggup mengajak anak Toilet Training jikalau anak sudah membuktikan gejala berikut:
  • Meniru tingkah laris orang remaja di saat memakai toilet
  • Sudah sanggup mengutarakan rasa secara verbal seumpama lapar, haus.
  • Sudah bisa mengerti undangan yang sederhana seumpama "Ambil bola itu"
  • Mulai mendorong celana hingga lepas di saat berair atau kotor, atau ketiak ia sanggup menyampaikan terhadap anda bahwa ia kotor.
  • Sudah sanggup duduk di atas pispot atau keloset
  • Bayi sudah tidak BAB atau BAK di celana selama tiga jam
  • Mulai meneliti anggota tubuhnya.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas sanggup ditarik kesimpulan bahwa kegiatan Toilet Training bermitra dengan banyak sekali faktor pertumbuhan pada anak. Kapan waktu yang sempurna menjalankan toilet pembinaan mengacu pada 4 faktor yaitu:

1. Perkembangan Fisiologis

Toilet pembinaan bermitra dengan kesanggupan pengendalian otot otot yang mengelilingi ujung usus besar dan kantung kemih. Pada usia 12-24 bulan anak sudah matang untuk mengendalikan otot-otot ini. Pengendalian otot yang mengelilingi kantung kemih lebih sukar dibanding ujung usus besar. BAB lebih sukar dikendalikan sehingga latihan BAB mesti lebih dulu dilakukan. Kapan waktu yang sempurna mesti diawali dengan penelitian orangtua dan pendidik terhadap tingkah laris anan dan gerakan yang dilakukan anak.


2. Keterampilan Motorik

Baik keahlian berangasan dan halus dikehendaki di saat kegiatan toilet. Keterampilan motorik halus yang dikehendaki merupakan keahlian kerjasama tandan dan jemari untuk berpakaian.


3. Perkembangan kognitif dan bahasa

Proses Toilet Training merupakan variasi yang kompleks antara kiprah fisik dan kognitif. Anak mesti berguru dan mengetahui fungsi-fungsi anggota tubuhnya, mengasosiasikan sensasi fisik dengan respon yang sesuai, memiliki citra wacana apa yang ingin dikerjakan, menyiapkan untuk pergi ke WC, melepaskan busana dalam dan memakai WC. Kemuadian anak juga mesti tahu kapan ia berhenti. Semua ini memerlukan ingatan, fokus juga pegendalian diri. Anak mesti memiliki kesanggupan untuyk mengerti penjelasan, perintah dan arespon dari kita dan bisa untuk memadukan seluruhnya biar mengerti proses keseluruhan Toilet Training.


4. Kesadaran emosional dan sosial 

Pada usia 2 (dua) tahun, anak sudah menjadi sadar akan bagian-bagian tubuhnya maka pendidik/ orang bau tanah mesti berperan untuk mengajarkan pengertian terhadap hal-hal yang bermitra dengan BAB dan BAK, seumpama rasa yang disimbolkan dengan kata-kata"pipis" untuk BAK dan "eek" untuk BAB. Juga pengenalan ungkapan dan penamaan alat kelamin, WC, basah, kering, busana dalam dan lain-lain. Istilah yang yang diperkenalkan merupakan yang tenteram untuk anak dan keluarga.


Kegiatan Pencatatan Pengamatan BAK dan BAB pada Anak Usia Dini di Lembaga PAUD

Pencatatan waktu kapan anak menjalankan BAK dan BAB penting dilakukan sebelum kegiatan Toilet Training sehingga pendidik bisa mengetahui pola dan waktu anak akan BAB dan BAK. Catatan ini menjadi dasar menyaksikan kesiapan anak mengawali Toilet Training juga menjadi tutorial waktu yang sempurna kapan mengingatkan dan mengajak anak ke pispot/toilet.

Menurut Sear dan Sears (2007), pola BAB berubah secara sedikit demi sedikit dari satu atau dua kali sehari di saat berusia satu tahun menjadi sekali sehari di saat berusia dua tahun. Jumlah BAB saban hari menurun namun volumenya meningkat. Pada di saat usia enam bulan hingga satu tahun, anak sudah jarang atau tidak BAB lagi di malam hari. Pada usia 1-2 tahun, anak batita kian jarang BAB di celana. Jika Pendidik tidak dapat mendapatkan polanya maka anak diajak dan diletakkan di pispot/jamban setiap 2(dua) jam atau lebih sering lagi. 

Tabel berikut ini salah satu pola Tabel Pengamatan BAK dan BAB pada Anak Usia Dini di Lembaga PAUD


Kemandirian dalam mengelola diri sendiri secara sedikit demi sedikit perlu dibangun pada anak usia dini CARA MELATIH ANAK BUANG AIR BESAR (BAB) DAN BUANG AIR KECIL (BAK) TOILET TRAINING UNTUK ANAK PAUD (BAG 1)
----Tabel Pengamatan BAK dan BAB pada Anak Usia Dini di Lembaga PAUD ------


tabel di atas dengan keterangan selaku berikut :

Untuk kolom Pants diisi :

- K artinya kering

- BAB jika  berair alasannya merupakan kotoran

- BAK/BAB jikalau keduanya.

- Untuk kolom Toilet dicontreng waktu ia BAK/BAB di kamar mandi.


Langkah Kedua: Siapkan diri anda selaku Pelatih yang Baik


Jika pendidik sudah menegaskan bahwa di saat Toilet Training sudah datang waktunya maka pendidik juga mesti menyiapkan diri sebaik mungkin. Adapun peralatan atau  "alat-alat" yang diperlukan adalah:
  1. Teknik komunikasi dengan anak sesuai dengan tahap pertumbuhan anak
  2. kesungguhan dan keteguhan yang tinggi
  3. Cara memotivasi dan mengajak yang kreatif
  4. Pispot atau jamban yang ukuran dan bentuknya cocok untuk anak. Berapa hal yang mesti diamati dalam menegaskan pispot adalah:
  5. diperkirakan anak menyukainya, gampang dibersihkan, keamanan, stabilitas, dan konsep yang menarik.
  6. Celana khusus untuk latihan ke toilet.

Langkah Ketiga: Ajari anak arah yang mesti dituju dan cara untuk menyebut hal itu

Anak dikenalkan tempat BAK dan BAB bersama-sama dengan menyediakan penamaan pada kegiatan BAK dan BAB juga perlu disampaikan dengan sempurna dan spesifik, umpamanya BAB dinamai "e-e" dan BAK dinamai "pipis". Selain itu anak perlu diajarkan sekaligus menyediakan penamaan pada bab tutubhnya. Berikan nama-nama yang masuk akal dan biasa diterima anak dan keluarga untuk penamaan bab badan (penis, testis, vagina, dll) yang terlibat dalam BAK dan BAB. Kata-kata tersebut diucapkan pendidik dengan nada yang masuk akal seumpama menyebutkan anggota badan lainnya.


Langkah Keempat: Ajari Anak relasi Antara Rasa ingin Buang Air dan Pergi ke Toilet

Salah satu kegiatan kegiatan dari Toilet Training merupakan mengajarkan anak wacana cara menghubungkan antara rasa ingin BAB atau BAK dan pergi ke toilet kemudian duduk di pispot atau jamban yang berujung dengan menjalankan BAB atau BAK di atas pispot. Ketika anak membuktikan gejala akan BAB atau BAK maka pendidik mesti secepatnya merespon dengan memperkuat penamaan wacana apa yang dicicipi anak kemudian mengajak anak ke pispot/jamban. 

Data pola BAB atau BAK anak ini dapat dipakai untuk mengingatkan anak wacana rasa ingin BAB atau BAK ini. Bersamaan dengan itu anak juga ditanamakan relasi mental antara rasa dan menyodorkan rasa tersebut terhadap pendidik, misalnya: "sayang, mau e-e yaa, bilang ke ibu guru yaa"

Setelah anak mengerti rasa mau BAB atau BAK, kemudian bisa menamainya dan menyampaikannya terhadap pendidik maka anak mulai ditingkatkan kemampuannya kearah kemandirian, umpamanya dengan mengatakan: "sudah terasa mau e-e yaa, ayoo pergi ke pispot: walaupun pada tahap permulaan masih diteman tetapi secara sedikit demi sedikit anak mulai diajarkan BAB atau BAK secara mandiri.


Langkah Kelima: Beralihlah dari popok ke Celana yang Praktis Dilepas


Pendidik perlu melepaskan semua hal yang hendak memperlambat kegiatan latihan ini. Pemakaian popok sekali pakai sanggup menghasilkan anak tidak sanggup menghasilkan relasi antara kesempatan BAB atau BAK dan langkah-langkah yang perlu dilakukannya. Saat ini kian banyak popok yang diperoduksi dengan menimbang-nimbang secepatnya agak kering sehabis BAK di popok tersebut. Anak dibentuk tenteram dan tetap tertidur di malam hari walaupun sudah berulang kali BAB atau BAK. Ini cukup berbahaya bagi kegiatan toilet training. Akhirnya banyak pendidik dan orangtua yang membiarkan anak dalam kondisi sudah berulang kali BAK di popoknya. Lama-lama anak merasa sudah biasa dengan kondisi ini. Keadaan ini mempersulit dan memlpperlama waktu kegiatan Toilet Training. 


Selain itu anak juga semestinya tidak memakai celana yang menyibukkan atau perlu waktu yang lebih usang jikalau akan dibuka, misalnya: celaana jins, celana panjang yang sempit di ujung pergelangan kaki. Setelah anak beberapa ahad tidak BAB atau BAK  di popoknya maka ini saatnya mengubah popok sekali pakai dengan celana yang cukup longgar dan gampang dilepaskan anak.


Langkah Keenam: Ajari Anak Anda untuk Membasuh, Menyiram, Mengenakan Celana dan Mencuci Tangan

Bagian terakhir yang dilatih pada anak di saat Toilet Training yakni serangkaian kegiatan: Membasuh, menyiram, Mengenakan Calana dan Mencuci Tangan dengan cara yang tepat. Cara membasuh yang bagus merupakan dari depan ke belakang. Ini berniat menangkal basil yang sanggup membuat benjol susukan kencing. Perlu keteguhan dan inovatif dalam memotivasi anak untuk membasuh sendiri. Kemampuan membasuh bermitra dengan kesanggupan motorik anak. Anak berumur 2 (dua) tahun jarang memiliki keahlian tangan untuk mengelap dengan patut bahkan beberapa anak tidak siap untuk menjalankan ini hingga berumur 4 (empat) atau  5 (lima) tahun.

Penyiraman sanggup berlangsung dengan gampang atau sukar tergantung anak. Ada yang bahagia dengan kegiatan ini namun ada juga yang takut dengan bunyi air di kloset yang agak kencang di saat tinja atau urin menghilang ke dalam  lobang kloset.

Mengenakan celana akan lebih gampang dan tenteram dilakukan anak jikalau orang bau tanah tidak mengenakan celana yang mempersulit anak melepaskan dan memasangkannya. Anak memiliki kecendrungan "kurang" sabar dan senantiasa igin cepat. Dipenghujung semua kegiatan Toilet Training" merupakan mencuci tangan dengan sabun dengan cara yang tepat.

Baca juga Cara mencuci tangan untuk Anak usia Dini di PAUD !!

Lakukan seluruh kegiatan toilet pembinaan dengan suasana, perilaku dan kata-kata pendidik yang menghasilkan anak merasa tenteram dan dihargai. Sama halnya di saat di saat kita melatih anak berjalan, yang umumnya sarat suka cita dan menilai anak yang jatuh atau takut-takut di saat mau melangkahkan kaki pertamanya. Tidak diperkenankan eksekusi atau kata-kata berangasan dan sarat ancaman jikalau anak sungguh lamban mengerti kegiatan Toilet Training ini. Berikanlah kata-kata faktual yang memotivasi dan kata-kata kebanggaan terhadap anak di saat toilet pembinaan ini dilaksanakan  di forum PAUD kita.

Demikian cara melatih anak buang air besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK) atau Toilet Training pada Anak di forum PAUD, khusunya bagi forum PAUD yang memiliki kesibukan Taman Pengasuhan Anak (TPA). Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung di Blog PAUD-Anakbermainbelajar ini. Wassalam.



Sumber:
Dirangkum dari Buku Seri Bahan asuh Diklat Berjenjang "Perawatan Gizi dan Kesehatan Anak usia Dini. Direktoran jenderal PAUD-Nonformal dan Informal. Tahun 2013.

Post a Comment

0 Comments